Super Motivasi Diri Saat Mulai Rapuh

Super Motivasi Diri Saat Mulai Rapuh - Saat kuliah sudah mulai lama dan lambat laun terasa semester akhir, mulai terlihat kita terasa semakin sendiri. Meski kampus terlihat semakin hari semakin ramai, kita sadar bahwa mereka yang mengisi ruang itu semua adalah para mahasiswa baru. Itu harus kita sadari. Saat wisuda baru kita sadar dengan NIM (Nomor Induk Mahasiswa) yang tertera pada bangku yang telah disiapkan untuk kita.

Apa karena motivasi yang kurang pada diri kita atau bahkan kesibukan yang melanda hingga lupa akan pekerjaan serta tugas sebagai seorang mahasiswa. Rapuh dan tertekan boleh, tapi jangan lama-lama ya. Kita harus menyadari beberapa hal yang ada di sekitar kita seiring dengan berjalannya waktu yang kita miliki. Berikut adalah hal yang perlu kita sadari :

1. Tugas Semakin Menumpuk

Ini masalah cukup serius ya. Semakin hari tugas kita tidak terselesaikan, baik tugas yang ada di rumah, tempat kerja hingga kampus atau bahkan mereka yang ikut organisasi kehilangan kendali sampai keasyikan, dan pada akhirnya kuliah nggak kelar. Tapi dapat relasi. Meski demikian, niatan kita yang awalnya mencari ilmu telah sirna karena godaan yang sebenarnya bisa kita atasi sendiri. Kalau relasi sudah dapat, mengapa harus tinggalkan kuliah. Kalau kerjaan  bisa didelegasikan, kenapa harus tunda tugas kuliah yang berdampak pada hasil akhirnya.

2. Dosen Tidak Selalu Ada Waktu Luang

Bahaya sekali ini. kita sudah siap-siap, eh ternyata dosen pembimbing kita malah ke luar negeri, bagaimana mau bimbingan. Memang sih bisa online, namun jika dosennya super sibuk apa mereka sempat mengoreksi dan pada akhirnya memberikan kesimpulan pada tugas kita. Kita rasa tidak semudah itu. Beda dengan ketemu langsung. Saat itulah kita dapat koreksian dan saat itu pula kita bisa langsung membenahi pekerjaan kita. Sukur-sukur satu hari setelah revisi bisa ACC, wah senang sekali.

3. Dosen Bisa Saja Berganti dan Tiada

Entah karena kesibukan atau bosan melihat kita yang tidak kelar-kelar. Sampai-sampai dosen pembimbing ganti. Iya kalau pembimbing yang menggantikan itu cukup bisa teratasi dan baik hati, kalau tidak kan repot dan malah mengulang tugas yang telah lama kita bangun dari awal. Apalagi kalau sudah dipanggil oleh sang Maha Kuasa, innalillahi, sedih campur makin sedih deh.

4. Wabah Melanda

Covid kemarin sungguh wabah yang cukup luar biasa. Selama dua tahun wisuda online. Suka duka selama dua tahun sungguh luar biasa mengguncang emosional para mahasiswa, dosen dan wali. Bagaimana tidak, momen saat wisuda yang seharusnya ditemani oleh orangtua di ruangan yang istimewa, harus berakhir dengan suasana yang sering kita rasakan sehari-hari. Kita tidak memandang sebelah mata dari sudut pandang mahasiswa saja. Mereka dari civitas akademik juga merasakan hal yang sama tentunya, bahkan harus menerima pil pahit dari mahasiswa dan walinya secara langsung. Ini bukan momen indah.

Saya sendiri termasuk bersyukur, karena ujian harus online. Sehingga tidak ada kontak batin dalam memberikan koreksi yang terlalu mendalam. Akhirnya bisa lekas saya selesaikan. Saat wisuda pun saya bisa wisuda offline. Biasanya para wisudawan didampingi orangtua, namun tidak bisa masuk. Kebetulan orang tua saya pun memang di Jawa, jadi serasa seolah-olah saya sendiri dibela keadaan.

Semua rekan saya telah selesai dan usai hingga wisuda. Dalam benak saya sendiri, kenapa teman-teman saya bisa, saya tidak bisa. Sama juga dengan apa yang menjadi tujuan hidup kita di dunia ini. kalau tetangga, rekan kerja bisa ini dan itu, kenapa kita tidak bisa. Kita pasti bisa. Itulah manusia, selama kita berusaha sungguh-sungguh seberapa waktu yang telah kita tempuh, bukan hal yang perlu kita hawatirkan. Kecuali ajal menjemput. Tetap semangat kawan.

 

 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel