Siap Literasi Kayak Sinetron

Siap Literasi Kayak Sinetron-Kalau kita telisik, ternyata kita bisa ambil sebuah kesimpulan dari orang-orang yang ada di Indonesia tentang kebenaran, bahwa rata-rata orang Indonesia itu suka menonton sinetron. Padahal kalau kita lihat dan amati, jalan cerita dari sinetron yang ada di Indonesia itu sudah bisa kita tebak. Coba deh kita tanya orang tua kita. Lebih suka mana menonton berita dengan menonton sinetron. Pasti kebanyakan kaum ibu-ibu suka menonton sinetron. Baik dari era tahun 90-an hingga sampai sekarang. Kemungkinan jika orang tua kita, kita tampilkan ulang sinetron yang udah lawas, bisa saja mereka ingat dan ingin menontonnya terus.

Nggak bisa kita pungkiri. Hati para pemirsa Indonesia sudah terpincut dengan segala tayangan sinetron. Ingat dengan tayangan sinetron Tersanjung, Tersayang, Si Doel Anak Betawi Asli. Belum lagi sinetron sekarang yang sedang booming dengan judul Ikatan Cinta. Sampai-sampai sinetron ini diperbincangkan di pagi hari oleh TV swasta kita, karena saking asyiknya untuk dibahas. Kalau kita sih nggak ada ngaruhnya, tapi bagi mereka para pemeran sinetron yang menjalani, berhamburan tawaran dan job untuk mereka jalani hingga dapat menghasilkan cuan yang berkepanjangan.

Rano Karno dalam sinetron Si Doel. Dia sukses dalam berkarir di perpolitikan hingga menjadi kepala daerah. Apalagi si cantik jelita Amanda Manopo yang berperan sebagai Andin di sinetron Ikatan Cinta ini. wah, nggak bisa dipungkiri deh, dia itu menjadi trending dan terkenal di jagad dunia nyata hingga maya pada tahun 2021.

Kemungkinan jika dilakukan survei, sinetron yang selama ini ditayangkan di Indonesia bisa jadi menempati posisi teratas dari sekian tayangan yang dihadirkan oleh televisi pada masyarakat Indonesia. Hal ini karena permasalahan yang ditampilkan pada televisi dengan wujud sinetron, dapat mewakili esensi atas bermacam-macamnya masalah, baik dari segi sosial, budaya yang dapat menyentuh serta mengena bagi masyarakat kita di Indonesia.

Kalau efeknya seperti ini, lalu sebab dihadirkannya sinetron yang ada memang dengan alasan demikian, tentu akan sangat bermanfaat bagi masyarakat kita sekalian. Karena budaya yang ditampilkan sesuai dengan masyarakat serta dapat mengokohkan tradisi kebudayaan yang ada pada masyarakat kita. Ini dapat dijadikan sebagai sarana literasi bagi penduduk Indonesia.

Media yang bisa untuk Literasi

Data dari Kemendikbudristek di tahun 2019 memberikan keterangan bahwa prosentase keinginan untuk membaca hanya 25 % an. Sungguh sangat disayangkan. Perlu adanya penanganan khusus dan cara baru dalam menaikkan angka ini sebagai bentuk perhatian pemerintah akan minat baca masyarakat Indonesia. Dari data tersebut menunjukkan angka yang sangat rendah sekali.

Nah, pendekatan lain yang dimaksud adalah agar masyarakat senang dengan literasi, senang membaca. Tiada lain adalah dengan pendekatan sinetron. Semisal saja yang tadinya visual diubah menjadi tulisan. Dari sini, kemungkinan masyarakat akan termotivasi untuk senang membaca. Di Harian Kompas sudah dicoba dengan menggunakan format cerita bersambung. Pada halaman depan mereka menampilkan cerita-cerita bersambung dari bulan-bulan yang berbeda. Misal di periode bulan Juni hingga Juli tahun 2021 bacaan yang ditampilkan adalah cerita “Indonesia dilihat dari Seberang Bats” karya dari bapak Agustinus Wibowo. Dan lain sebagainya, kita bisa lihat sendiri jika sering beli koran bacaan ini, tentu akan sangat menarik minat baca masyarakat.

Dengan demikian, adanya format tulisan yang bersambung ini seseorang akan dengan senangnya dan penasarannya hingga mereka akan selalu haus akan informasi bagaimana lanjutan cerita dari bacaan yang disajikan pada harian kompas. Pada akhirnya mereka pun akan membeli lagi dan lagi koran hasil terbitan dari Harian Kompas ini.

Tantangan Besar dalam Literasi Media

Sayangnya kebanyakan media koran, ataupun cetak yang ada di berbagai daerah selalu memuat hal-hal yang berkaitan dengan masalah-masalah politik dan viral saja. Memang sih, target para media cetak ini adalah mereka para bapak-bapak. Sepertinya begitu, namun apa salahnya jika dicoba menambahkan menu yang agak mengocak perasaan pembaca dengan menghadirkan bentuk bacaan yang seperti ini. karena pada dasarnya manusia itu suka cerita. Tuh, sinetron yang ada dan ditonton oleh jutaan masyarakat Indonesia lahir sebagai buktinya.

Tantangan selanjutnya adalah, tidak semua orang suka koran. Apalagi sejak adanya media informasi yang berupa Internet dengan kuota jor-joran dan murah. Dapat dipergunakan untuk apa saja dan di mana saja. Memang ada media online secara gratiss pada playstore, seperti detik.com dan lain-lain yang bisa diunduh bebad di sana. Namun sayangnya lebih banyak media visul yang dipilih orang-orang pada HP yang mereka miliki. Melihat youtube, channel TV serta media sosial yang berbau Video. Berbeda di Finlandia yang menjadikan koran dan media cetak lainnya sebagai penopang literasi di masyarakat.

Untuk mengatasi hal yang mengurangi giatnya literasi pada masyarakat yang tantangannya sangat besar ini dalam hal literasi, mungkin saja dengan adanya kerjasama dari berbagai pihak atau bisa jadi program pemerintah daerah agar beberapa media cetak digalakkan dan disediakan secara gratiss di berbagai tempat umum, jika memang tidak bisa begitu maka paling tidak memberikan harga yang murah dan lebih menarik lagi formatnya. Jika tidak ada perubahan dan inovasi yang diberikan pada media koran dan cetak ini, beberapa tahun lagi lembaran-lembaran yang ada dan disediakan sebagai bahan bacaan sudah tidak ada lagi. Semoga saja budaya literasi di Indonesia ini lekas membaik.

 

 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel