Hujan Bukanlah Bencana

cara menghentikan hujan dengan doa

Hujan Bukanlah Bencana - Semua yang tuhan ciptakan untuk kita memiliki hikmah, memiliki manfaat. Kadang apa yang tuhan ciptakan meluap hingga menjadi sebuah bencana. Sebenarnya itu adalah peringatan untuk kita. Jika pemberianNya terlihat berelebihan hingga mengakibatkan bencan,a seharusnya kita coba berfikir ulang apa yang telah kita perbuat selaku manusia atas ciptaan dan keteraturan yang telah Tuhan buat.

Tidak lain dan tidak bukan, segala yang terjadi di dunia ini yang berakhir pada bencana, semua adalah ulah daripada manusia itu sendiri. Tuhan maha cerdas dan menyukai keselarasan. Bukankah begitu, sekian banyak manusia dan makhluk yang ada di dunia telah kita lihat. Apakah tuhan menciptakannya tidak dengan keselarasan. Mata kita dua, kaki, tangan jari-jemari, semuanya selaras dan seimbang.

Banjir yang melanda tempat-tempat kita, longsong dan gunung meletus. Itu semua membutuhkan waktu yang lama hingga terjadi bencana tersebut. Kita sudah tahu jika kita berbuat ini dan itu, maka akibatnya begini dan begitu. Sayangnya kita selaku manusia acuh dan bilang “ah, ini masih tergenang sedikit”, saat banjir tidak begitu banyak. Besok dan besoknya lagi berakhir pada tergenang hingga arus banjir begitu deras dan akhirnya menelan korban.

Kejadian awal, atas tergenangnya air yang sedikit sudah memperingatkan kita agar mengatasinya dengan segera. Kita atasi dengan berfikir apakah ada aliran yang tersumbat, apakah sampah-sampah sudah dibakar dengan baik, apakah selokan sudah memadahi dengan adanya curah hujan yang semakin hari-semakin banyak.

Hujan bukan bencara, namun sebaliknya. Anugerah yang patut kita syukuri. Misal saja tanpa hujan, kita tidak bisa menikmati indahnya pepohonan yang gembira dan hijau lebat, karena adanya hujan tumbuh-tumbuhan menjadi segar dan hidup. Sungai yang mengalir, jernih dan sejuknya udara setelah kemarau melanda.

Yuk,, kita syukuri dengan perkataan dan perbuatan. Dengan perkataan, ketika ada petir dan guntur kita tengadahkan tangan untuk berdo’a, saat hujan turun kita pun juga berdo’a dan bahkan saat hujan berhenti pun kita berdo’a. dalam perbuatan juga demikian. Jangan tunggu tuhan murka karena kita yang hanya berpangku tangan saat melihat sampah berserakan, kita yang kurang perhatian karena membuang sampah tidak pada tempatnya. Akhirnya penyakit mewabah akibat genangan air yang terjadi di mana-mana.

Awal mula hujan bukanlah bencana. Saat terjadi hal yang tidak kita inginkan dari hujan itupun bukan bencana, itu hanya sekedar pengingat bagi kita selaku manusia agar berfikir dengan hati yang lapang dan bersikap layaknya manusia yang giat karena masih mampu mengatasi kesusahan karena banjir, longsor dan lain sebagainya.

Berbuat, maka haruslah bertanggungjawab. Yuk sama-sama kita rawat bumi ini agar usianya yang semakin tua, masi terlihat indah dan bisa dinikmati oleh anak-anak yang akan lahir di masa mendatang. Kita wariskan budi pekerti yang luhur dan teladankan sikap menjaga alam dengan menanam kebaikan, menanam pohon sedini mungkin untuk bisa dikenang di masa mendatang. Bukankah pohon meninggalkan banyak kisah. Adakalanya pohon dibuat ayunan, dibuat mainan anak-anak.  Apalagi pohon yang berbuah seperti mangga. Buahnya lebat, besar, manis adapla yang masam, namun itu semua dapat dirasakan oleh banyak orang. Meski sekarang kita tinggal mencangkoknya tidak salah juga jika kita menanam dari bibit awal mula.

Yang terpenting kita menanam. Karena dengan menanam maka kita akan menuai. Tanamlah yang banyak, karena bisa jadi dari 100 yang kita tanam buah yang keluar ada yang menghasilkan lebih banyak dan bisa dinikmati lebih banyak oran lagi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel